Jualan makanan rumahan online sering dimulai dari WA, Instagram, dan rekomendasi teman. Order mulai masuk, tapi banyak yang mentok di fase yang sama: “rame iya, tapi kenapa uangnya tipis?”
Biasanya bukan karena rasa atau kualitas. Penyebab utamanya harga dipasang dari harga kompetitor, padahal struktur biaya per channel berbeda jauh.
Ringkasan cepat
- Hitung dulu biaya per batch, baru pecah ke biaya per porsi.
- Pisahkan harga pickup, kurir instan, dan delivery app.
- Masukkan upah diri sendiri dan susut produksi.
- Pakai evaluasi 2 mingguan supaya koreksi harga tidak telat.
Kenapa jualan online perlu model harga bertingkat
Bank Indonesia mencatat pengguna QRIS sudah mencapai sekitar 57 juta dan merchant 39,3 juta (semester I 2025). Ini kabar baik: pembayaran digital makin luas, pembeli makin nyaman transaksi non-tunai.
Di sisi lain, makin banyak transaksi digital berarti makin banyak biaya kecil per order yang harus dicatat: MDR, kemasan, sampai biaya channel marketplace/delivery app.
Di diskusi komunitas online, merchant juga sering cerita bahwa selisih harga online-offline bisa terasa besar karena biaya channel. Ini bukan berarti harga online harus selalu mahal, tapi kamu memang perlu struktur harga yang jujur terhadap biaya.
Rumus batch untuk usaha rumahan
Pakai rumus ini agar gampang diterapkan:
totalBiayaBatch = bahan + kemasan + gasListrik + upahDiri + susut + biayaTransaksi + subsidiOngkir
HPPPerPorsi = totalBiayaBatch / porsiJadi
hargaJualMinimum = HPPPerPorsi / (1 - targetLabaBersih)
Kalau kamu belum punya data historis, mulai dari target laba bersih 15%-20% dulu, lalu sesuaikan.
Contoh hitung: rice bowl rumahan, batch 40 porsi
| Komponen batch | Biaya |
|---|---|
| Bahan baku | Rp480.000 |
| Kemasan + sendok + stiker | Rp96.000 |
| Gas/listrik | Rp42.000 |
| Upah diri (4 jam produksi + packing) | Rp120.000 |
| Susut/buffer | Rp32.000 |
| Biaya transaksi | Rp12.000 |
| Total biaya batch | Rp782.000 |
Hitung HPP:
Rp782.000 / 40 = Rp19.550 per porsi
Jika target laba bersih 20%:
Rp19.550 / (1 - 0,20) = Rp24.438
Harga aman awal bisa di Rp24.500-Rp25.000 untuk channel paling ringan (pickup).
Contoh harga per channel dari HPP yang sama
| Channel | Tambahan biaya utama | Harga rekomendasi awal |
|---|---|---|
| Pickup/ambil sendiri | Biaya transaksi ringan | Rp24.500-Rp25.000 |
| Kurir instan | Admin + subsidi ongkir sebagian | Rp27.000-Rp28.000 |
| Delivery app | Komisi channel + promo sharing + kemasan lebih kuat | Rp30.500-Rp33.000 |
Satu resep bisa punya tiga harga sehat. Ini lebih aman daripada memaksa satu harga untuk semua jalur.
Kesalahan yang paling sering bikin rugi
Tiga hal ini paling sering kejadian:
- Tidak menghitung upah diri sendiri
- Menganggap biaya transaksi digital terlalu kecil untuk dicatat
- Menanggung promo tanpa batas kuota
Kalau kamu merasa capek tapi hasilnya tidak sebanding, biasanya salah satu dari tiga ini terjadi.
Aturan operasional sederhana untuk usaha rumahan
- Pakai preorder cut-off (misal H-1 pukul 20.00) supaya produksi terukur.
- Batasi variasi menu mingguan agar belanja lebih efisien.
- Simpan catatan HPP batch minimal 8 siklus produksi untuk melihat pola.
Tidak perlu software rumit dulu. Yang penting angka konsisten dicatat.
Lakukan sekarang
- Hitung total biaya batch terakhir, termasuk upah diri
- Buat 3 harga per channel: pickup, kurir instan, delivery app
- Tetapkan target laba bersih minimum
- Jadwalkan evaluasi harga tiap 2 minggu
Baca juga
Referensi data lokal (cek 2026-02-14)
- Bank Indonesia: pengguna dan merchant QRIS (rilis 4 Agustus 2025)
- Bank Indonesia: MDR QRIS per segmen merchant
- Diskusi komunitas merchant soal biaya channel delivery (Reddit, 21 Maret 2025)
- Kompas Tekno: alasan harga di aplikasi lebih tinggi dari resto
- Blog UMKM: strategi delivery online untuk bisnis kuliner (Kompas UMKM)