Nasi berkat untuk Maulid Nabi biasanya datang dalam volume besar dan waktu persiapan yang singkat. Banyak vendor merasa order seperti ini aman karena komunitasnya jelas, tetapi kebocoran margin justru sering terjadi di detail yang tidak terlihat di awal.
Contoh paling umum: titik kirim bertambah, kemasan naik kelas, atau jumlah porsi berubah mendekati hari acara. Jika biaya-biaya itu tidak dikunci sejak quotation, laba bersih bisa jauh di bawah target.
Ringkasan cepat
Harga nasi berkat Maulid sebaiknya ditetapkan dari total biaya riil per porsi, lalu dibagi target food cost. Untuk banyak UMKM katering, rentang 38%-42% cukup realistis untuk menjaga keseimbangan antara daya beli panitia dan margin usaha.
Sebagai konteks, BPS mencatat inflasi y-on-y Januari 2026 sebesar 3,55% (rilis 2 Februari 2026). Dalam kondisi biaya bahan bergerak, evaluasi harga paket per event lebih aman daripada memakai angka lama tanpa pembaruan.
Titik rawan yang sering bikin margin bocor
Pertama, distribusi multi titik. Acara Maulid sering membutuhkan pengiriman ke masjid utama, musala, dan rumah panitia. Tanpa biaya logistik per titik, tenaga dan waktu kirim tidak pernah ter-cover.
Kedua, pilihan kemasan. Selisih biaya antara box standar dan kemasan premium bisa terlihat kecil per porsi, tetapi berdampak besar ketika dikalikan ratusan box.
Ketiga, perubahan mendadak. Permintaan tambahan porsi di H-1 biasanya memicu belanja dadakan dengan harga bahan lebih tinggi, sehingga margin turun jika tidak ada biaya perubahan.
Rumus harga minimum nasi berkat Maulid
Gunakan pola hitung ini:
totalBiayaPerPorsi = bahan + kemasan + tenaga + distribusi + susut + biayaPembayaran
hargaJualMinimum = totalBiayaPerPorsi / targetFoodCost
Jika acara melibatkan banyak titik kirim atau jadwal sempit, gunakan target food cost yang lebih konservatif agar masih ada ruang untuk risiko operasional.
Contoh hitung: 320 porsi nasi berkat Maulid
Misalnya panitia meminta 320 porsi nasi berkat dengan 3 titik pengiriman.
| Komponen | Biaya per porsi |
|---|---|
| Nasi + lauk utama + sayur | Rp15.400 |
| Pelengkap (sambal, kerupuk, air mineral) | Rp3.300 |
| Kemasan + alat makan | Rp2.400 |
| Tenaga prep, packing, loading | Rp3.200 |
| Distribusi 3 titik | Rp2.100 |
| Cadangan susut produksi | Rp1.100 |
| Biaya pembayaran/administrasi | Rp500 |
| Total biaya per porsi | Rp28.000 |
Jika target food cost 39%:
Rp28.000 ÷ 0,39 = Rp71.795
Harga aman berada di kisaran Rp72.000-Rp76.000 per porsi. Kisaran ini memberi ruang untuk risiko lapangan tanpa membuat harga terlalu jauh dari kemampuan panitia.
Jika panitia mengajukan Rp65.000 per porsi:
Rp65.000 x 0,39 = Rp25.350
Biaya maksimal menurut target hanya Rp25.350, padahal biaya riil Rp28.000. Artinya perlu penyesuaian menu, kemasan, atau skema distribusi sebelum deal.
Aturan kerja yang sebaiknya dipasang sejak awal
Pertama, siapkan dua paket utama saja: standar dan premium. Model ini mempermudah belanja bahan dan menurunkan risiko salah packing.
Kedua, terapkan cut-off jumlah final minimal H-3, lalu kenakan biaya add-on untuk perubahan setelah cut-off. Aturan ini membuat tim produksi bisa bekerja lebih terukur.
Ketiga, pisahkan biaya kirim per titik tambahan sejak penawaran pertama. Dengan begitu, panitia bisa mengambil keputusan anggaran tanpa kejutan biaya di akhir.
Keempat, gunakan DP 30%-50% sebagai SOP. Selain menjaga arus kas, DP membantu mengunci komitmen pesanan agar risiko pembatalan menurun.
Lakukan sekarang
- Tetapkan dua paket nasi berkat dengan gramasi dan kemasan yang jelas
- Hitung biaya per porsi hingga komponen kecil (admin pembayaran, susut)
- Tulis aturan cut-off final quantity di quotation
- Pisahkan tarif distribusi per titik tambahan
- Tinjau margin bersih setelah event untuk revisi harga event berikutnya