Order takjil saat Ramadan biasanya naik cepat, tapi margin tidak otomatis ikut naik. Banyak UMKM kuliner tetap kewalahan karena harga dibuat mengikuti kompetitor, bukan dari biaya dapur sendiri.
Kalau pola ini dibiarkan, tim terlihat sibuk sepanjang bulan puasa, tetapi laba bersih per hari tipis. Solusinya sederhana: tetapkan harga dari angka biaya nyata, lalu baru atur promo dan kuota.
Ringkasan cepat
Tentukan dulu biaya lengkap per paket: bahan, kemasan, tenaga, distribusi, susut, dan biaya transaksi. Setelah itu hitung harga minimum berdasarkan target food cost, lalu jadikan angka itu sebagai batas bawah.
Saat Ramadan, harga bahan bisa bergerak cepat antarkota. Pakai data harian dari Panel Harga Badan Pangan Nasional dan Satu Data Perdagangan Kemendag sebagai patokan update biaya belanja mingguan. Di sisi pembayaran, biaya transaksi QRIS tetap wajib dicatat karena nominal kecil per order bisa menumpuk besar saat jam buka puasa. Sebagai konteks makro, BPS mencatat inflasi tahunan Januari 2026 di 3,55% (y-on-y), jadi harga paket Ramadan sebaiknya dievaluasi mingguan, bukan ditahan satu bulan penuh tanpa koreksi.
Masalah yang paling sering bikin margin bocor
Di lapangan, kebocoran biasanya datang dari hal yang berulang: porsi jadi lebih besar saat antrean panjang, varian menu terlalu banyak untuk tim kecil, dan biaya kecil seperti saus tambahan atau kemasan tidak dimasukkan ke hitungan.
Masalah lain yang sering terjadi adalah promo tanpa kuota. Diskon terlihat menarik untuk akuisisi pelanggan, tapi tanpa batas harian kamu bisa menjual banyak paket di bawah harga aman.
Pola permintaan Ramadan yang sering terjadi di lapangan
Di area kantor Jabodetabek, order biasanya padat Senin-Kamis untuk meeting internal dan buka bersama divisi. Di area perumahan, lonjakan cenderung muncul menjelang akhir pekan saat ada pengajian keluarga atau buka bersama RT.
Kalau targetmu campuran kantor dan komunitas masjid, pisahkan kuota harian sejak awal. Slot jam 15.00-17.00 untuk area kantor biasanya butuh buffer distribusi lebih besar dibanding pengantaran dekat musala lingkungan.
Contoh pola lokal: Jakarta, Bandung, Surabaya
Setiap kota punya ritme order yang berbeda selama Ramadan, jadi strategi harga sebaiknya tidak disamaratakan.
| Kota | Pola order yang sering muncul | Dampak ke harga |
|---|---|---|
| Jakarta (CBD Sudirman-Kuningan) | Volume tinggi menjelang buka, banyak order kantor dengan SLA ketat | Tambahkan komponen biaya logistik gedung dan waktu tunggu kurir |
| Bandung (kawasan kampus) | Order cenderung sensitif harga, puncak terjadi di sore hari | Jaga paket inti tetap kompetitif, margin ditopang dari add-on |
| Surabaya (perumahan + komunitas) | Repeat order keluarga/komunitas lebih tinggi saat akhir pekan | Kunci minimum order dan DP agar arus kas bahan baku aman |
Kalau kamu melayani lebih dari satu area, pisahkan template harga per zona. Ini lebih aman daripada memakai satu harga rata untuk semua kanal.
Rumus harga minimum paket takjil
Gunakan dua langkah ini sebelum membuka pre-order harian:
totalBiayaPerPaket = bahan + kemasan + tenaga + gasListrik + distribusi + susut + biayaTransaksi
hargaJualMinimum = totalBiayaPerPaket / targetFoodCost
Untuk UMKM takjil, target food cost 35%-40% biasanya jadi titik awal yang realistis. Kalau area kirim padat macet atau jam operasional lebih panjang, gunakan target yang lebih konservatif agar ruang operasional tetap aman.
Catat biaya transaksi digital dari awal
Kalau mayoritas pembayaran kamu lewat QRIS, pakai skema merchant sebagai patokan minimum:
- UMI dengan omzet sampai Rp500.000 per bulan: 0%
- UMI dengan omzet di atas Rp500.000 per bulan: 0,3%
- UKE/UME/UBE: 0,7%
Contoh cepat:
Harga paket Rp66.000 x MDR 0,3% = Rp198 per transaksi
Angka Rp198 terlihat kecil, tetapi di 120 transaksi per hari nilainya jadi Rp23.760. Dalam 30 hari operasional, itu sudah Rp712.800 yang harus dianggap biaya riil, bukan selisih “nanti saja”.
Contoh hitung: paket takjil 120 porsi
Misalnya kamu menjual paket takjil untuk pengajian kantor dengan volume 120 porsi per hari.
| Komponen | Biaya per paket |
|---|---|
| Menu utama + minuman + kudapan | Rp15.000 |
| Kemasan + sendok + tisu + label | Rp2.300 |
| Tenaga prep dan packing | Rp3.100 |
| Gas/listrik dan utilitas dapur | Rp1.000 |
| Distribusi lokal | Rp1.600 |
| Susut/buffer produksi | Rp1.400 |
| Biaya transaksi | Rp600 |
| Total biaya per paket | Rp25.000 |
Jika target food cost kamu 38%, maka:
Rp25.000 ÷ 0,38 = Rp65.789
Artinya harga aman berada di kisaran Rp66.000-Rp72.000 per paket, tergantung radius kirim dan skema pembayaran.
Keputusan operasional yang sebaiknya dikunci dari awal
Batasi varian ke 2-3 paket saja agar belanja, prep, dan kontrol porsi lebih stabil. Untuk tim kecil, variasi terlalu banyak hampir selalu meningkatkan susut dan memperlambat produksi.
Terapkan kuota harian dan cut-off jam order. Praktik ini membantu kamu menjaga kualitas saat jam ramai sekaligus mencegah order tambahan yang tidak sempat diproduksi dengan standar yang sama.
Untuk order komunitas atau kantor, DP 30%-50% tetap penting. Selain menjaga arus kas bahan baku, DP juga menurunkan risiko pembatalan mendadak di jam kritis.
Lakukan sekarang
- Kunci 2-3 paket takjil inti untuk 1 minggu ke depan
- Hitung ulang biaya per paket dengan komponen kecil (kemasan, saus, biaya transaksi)
- Tetapkan harga minimum dan larang diskon di bawah batas tersebut
- Pasang kuota harian + cut-off order yang jelas di katalog/WA
- Review margin tiap 7 hari selama Ramadan