Order online bisa bikin dapur sibuk seharian. Masalahnya, saldo bersih yang masuk rekening sering tidak sebanding dengan jumlah order.
Di lapangan, kebocoran biasanya bukan dari satu biaya besar, tapi dari tumpukan potongan kecil yang tidak dibaca detail di laporan settlement harian.
Ringkasan cepat
- Gunakan harga online berbasis potongan aktual per channel, bukan angka kira-kira.
- Pisahkan komponen biaya persen dan biaya nominal per order.
- Simulasi harga minimum per menu sebelum menyalakan promo besar.
- Audit margin online per minggu, bukan hanya lihat omzet order.
Kenapa topik ini penting sekarang
Analisis Katadata pada awal 2024 juga menunjukkan biaya admin platform masih menjadi keluhan utama UMKM online. Data INDEF yang dikutip menyebut 78,34% UMKM mengeluhkan biaya admin e-commerce.
Di saat yang sama, ekonomi layanan antar makanan Indonesia tetap besar. Laporan Momentum Works yang dikutip The Jakarta Post menyebut nilai pasar pengantaran makanan Indonesia mencapai sekitar US$6,4 miliar pada 2025. Artinya potensi order masih ada, tapi disiplin harga harus lebih rapat.
Keluhan soal biaya channel juga sering muncul di kanal komunitas UMKM, termasuk petisi publik yang menyoroti beban komisi aplikasi delivery pada merchant kecil.
Potongan yang wajib dicek dari laporan settlement
| Komponen | Bentuk biaya | Cara cek |
|---|---|---|
| Komisi platform | Persentase | Lihat detail per order di dashboard merchant |
| Biaya layanan channel | Persentase/nominal | Cek invoice mingguan/bulanan |
| Promo ditanggung merchant | Persentase/nominal | Cocokkan dengan campaign yang aktif |
| Biaya pembayaran | Nominal/persentase | Pisahkan QRIS/transfer/e-wallet |
| Subsidi ongkir internal | Nominal | Catat per order yang disubsidi |
Jangan pakai asumsi lama. Ambil angka aktual terbaru dari masing-masing channel, karena struktur biaya bisa berubah sesuai paket, wilayah, atau program promosi.
Rumus harga menu online yang lebih aman
potonganPersenTotal = komisiPlatform + biayaLayananPersen + promoDitanggungPersen
biayaNominalPerOrder = kemasan + biayaPembayaran + subsidiOngkir + biayaOperasionalChannel
hargaOnlineMinimum = (HPP + biayaNominalPerOrder) / (1 - potonganPersenTotal)
Kalau potonganPersenTotal >= 1, berarti model harga tidak sehat. Perbaiki struktur promo atau komponen biaya dulu sebelum menaikkan volume kampanye.
Contoh hitung: rice bowl online
Asumsi per porsi:
- HPP menu: Rp18.500
- Kemasan delivery: Rp2.000
- Biaya pembayaran: Rp700
- Subsidi ongkir internal: Rp1.000
- Biaya operasional channel: Rp800
- Total potongan persen (dari laporan aktual): 22%
Maka:
hargaOnlineMinimum = (18.500 + 2.000 + 700 + 1.000 + 800) ÷ (1 - 0,22)
hargaOnlineMinimum = Rp29.487
Harga aman ada di kisaran Rp29.500-Rp31.000, tergantung strategi promo dan posisi pasar lokal.
Kapan harga online harus berbeda dari offline
Pisahkan harga saat biaya channel memang berbeda nyata. Ini bukan “mark up asal”, tapi cara menjaga agar channel online tidak memakan margin channel lain.
Prinsip sederhananya:
- Menu traffic builder: margin tipis boleh, tapi jumlahnya dibatasi.
- Menu profit keeper: margin dijaga lebih ketat.
- Menu add-on: dipakai untuk menaikkan nilai keranjang belanja.
Lakukan sekarang
- Ambil laporan settlement 14 hari terakhir per channel.
- Hitung potongan persen total dan biaya nominal per order.
- Simulasikan ulang 10 menu terlaris online.
- Matikan promo yang membuat harga jatuh di bawah batas aman.
- Review margin bersih online setiap minggu.
Baca juga
Referensi data lokal (cek 2026-02-14)
- Katadata - Biaya admin e-commerce jadi tantangan UMKM (30 Januari 2024)
- The Jakarta Post - Indonesia’s online food delivery market reaches US$6.4b (Momentum Works)
- Change.org - Petisi terkait komisi aplikasi delivery untuk UMKM
- Bank Indonesia - Tinjauan Kebijakan Moneter (QRIS users/merchants)
- Bank Indonesia - MDR QRIS Bagi Merchant